Sigli – Langit Desa Adang Beurabo, Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie, dipenuhi warna-warni layang-layang yang terbang megah menghiasi cakrawala, diawal musim panen perdana kawasan tersebut, diselenggarakan Festival Layang Tunang yang berlangsung mulai 14 -17 Juni 2026, kemarin.
Adapun puncak final akan dilaksanakan pada , Minggu 21 Juni 2026, masyarakat dari berbagai usia berkumpul dalam satu ruang publik dengan penuh semangat kebersamaan. Festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan layang-layang tradisional, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan silaturahmi antargenerasi serta pelestarian warisan budaya Aceh di tengah arus modernisasi.

Ratusan peserta dari berbagai daerah, seperti Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bireuen dan Aceh Besar, turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Para orang tua berbagi pengalaman serta pengetahuan tentang pembuatan dan cara menerbangkan layang kepada generasi muda, sementara anak-anak dan remaja menikmati kesempatan untuk mengenal lebih dekat tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh selama berpuluh-puluh tahun. Interaksi tersebut menjadikan festival ini tidak sekadar tontonan, tetapi juga ruang belajar budaya yang berlangsung secara alami dan menyenangkan.
Festival Layang Tunang merupakan bagian dari program kebudayaan “Langit dan Dapur Tradisi Integrasi Geulayang Tunang dan Khanduri Apam dalam Aktivasi Ruang Publik” yang didukung oleh Program Indonesiana.
Sebelumnya, Sekolah MTsN 7 Pidie dan masyarakat Desa Teungeh Drien Gogo, Padang tiji telah melaksanakan Khanduri Apam, tradisi yang menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan penguatan ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat Aceh. Pelaksanaan Khanduri Apam bersama Festival Layang Tunang menunjukkan bagaimana tradisi kuliner dan permainan rakyat dapat diintegrasikan untuk menghidupkan ruang publik sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
Perwakilan warga Desa Adang Beurabo, Muhammad Rezeki, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, Festival Layang Tunang bukan sekadar perlombaan, melainkan upaya nyata dalam menjaga identitas budaya Aceh agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Kami sangat bangga melihat antusiasme masyarakat, khususnya generasi muda, yang ikut terlibat dalam kegiatan ini. Geulayang Tunang dan Khanduri Apam adalah warisan budaya yang mengajarkan kebersamaan, gotong royong, dan rasa hormat kepada tradisi. Kegiatan seperti ini perlu terus dilaksanakan agar budaya yang diwariskan oleh leluhur tidak hilang, tetapi terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Penanggung jawab kegiatan, Mahrizal, menjelaskan bahwa festival ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan budaya yang mampu memperkuat hubungan sosial masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian tradisi lokal.
Untuk menambah semangat para peserta, panitia menyediakan hadiah dengan total 15 Juta yang akan diperebutkan hingga babak final pada 21 Juni 2026. Lebih dari sekadar kompetisi, Festival Layang Tunang menjadi bukti bahwa tradisi masih memiliki daya tarik dan relevansi dalam kehidupan masyarakat masa kini, mampu menyatukan generasi, memperkuat identitas budaya, serta menghidupkan ruang publik sebagai pusat aktivitas sosial dan kebudayaan.




Recent Comments