PIDIE – Sorak sorai penonton bergema di hamparan sawah Desa Adang Beurabo, Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie, saat Festival Geulayang Tunang yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Krida Pertanian 2026 resmi berakhir, Minggu (21/6/2026). Ratusan pasang mata tertuju ke langit yang dipenuhi warna – warni Geulayang Tunang, menciptakan pemandangan spektakuler yang menjadi penutup meriah rangkaian kegiatan budaya tersebut.
Masyarakat dari berbagai daerah seperti Pidie, Pidie Jaya, hingga Bireuen memadati arena festival. Mereka datang untuk menyaksikan pertarungan semi final dan final yang sengit. 12 Layang Tunang terbaik yang berhasil menembus babak final setelah melalui seleksi yang ketat.
Setelah melalui penilaian dewan juri, Grup Geulayang Tunang “Sipitung” dari Padang Tiji, Kabupaten Pidie, berhasil keluar sebagai Juara I. Posisi Juara II diraih oleh Grup “Batavia” dari Labui, Kabupaten Pidie, sedangkan Juara III diraih Grup “Cicem Pureh” dari Samalanga, Kabupaten Bireuen.
Ketua Panitia, Ibrahim T, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan festival yang mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

“Alhamdulillah, kegiatan berlangsung lancar dan mendapat dukungan besar dari masyarakat. Antusiasme peserta dan penonton menunjukkan bahwa Geulayang Tunang masih menjadi kebanggaan bersama yang layak terus dilestarikan,” ujarnya.
Festival ini merupakan bagian dari program kebudayaan “Langit dan Dapur Tradisi Integrasi Geulayang Tunang dan Khanduri Apam dalam Aktivasi Ruang Publik”. Program tersebut dirancang untuk menghidupkan kembali ruang – ruang publik dan kebersamaan masyarakat melalui berbagai aktivitas budaya yang berakar pada tradisi lokal.
Tokoh masyarakat Adang, Muhammad Rezeki, menilai Festival Geulayang Tunang tidak sekadar menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang yang memperkuat ikatan sosial dan identitas budaya masyarakat.
“Ketika anak-anak, pemuda, hingga orang tua berkumpul dalam satu kegiatan budaya, di situlah nilai kebersamaan tumbuh. Festival ini menjadi bukti bahwa tradisi masih dicintai dan mampu menyatukan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, Geulayang Tunang merupakan warisan budaya yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Aceh karena mengajarkan kebersamaan, kerja sama, dan kecintaan terhadap tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.
Berakhirnya Festival Geulayang Tunang 2026 menjadi penanda bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat yang kuat di tengah perkembangan zaman. Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan ini menjadi perayaan budaya yang mempertemukan masyarakat dalam semangat persatuan, sekaligus memperkuat komitmen untuk terus menjaga dan mewariskan budaya Aceh kepada generasi mendatang.




Recent Comments