Pidie – Lembaga Cerita Pidie berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pidie menggelar kegiatan Kemah Peduli Lingkungan. Acara ini berlangsung selama tiga hari, mulai 16 hingga 18 Januari 2026, bertempat di kawasan Jambo Adventure, Blang Jambo Mi, Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie, diikuti oleh pemuda, pemudi, mahasiswa, serta kalangan masyarakat umum.
Kegiatan ini digelar di tengah masih hangatnya polemik lingkungan di Aceh, menyusul bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah pada November–Desember 2025 lalu. Banjir tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur, ribuan warga mengungsi, dan kerugian material yang tidak sedikit. Di Kabupaten Pidie Jaya yang berbatasan langsung dengan Pidie, banjir bahkan terjadi berulang kali, merendam pemukiman hingga beberapa kali sejak akhir 2025.
Menyikapi kondisi tersebut, Kemah Peduli Lingkungan yang mengusung tema “Tajaga Lingkungan, Ta Pelindoeung Udep” ini dirancang sebagai wadah kolaborasi strategis antara pemuda, masyarakat, dan pemerintah. Tujuannya adalah membangun kesadaran kolektif yang kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan di Kabupaten Pidie khususnya, dan wilayah Aceh pada umumnya.
Ketua Panitia, Zian Mustaqin, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda berkumpul semata, melainkan ruang pembelajaran dan aksi nyata. “Kami berharap kegiatan ini bisa menginspirasi komunitas lain. Jika bukan generasi muda yang memulai gerakan ini, maka siapa lagi yang akan melakukannya?” ujarnya.
Dukungan penuh juga disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten Pidie. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pidie, Firman Maulana, S.STP., M.Ap., M.Ling., menyatakan bahwa sinergi dengan komunitas adalah kunci keberhasilan program lingkungan. “Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kami sangat mengapresiasi inisiatif Lembaga Cerita Pidie. Gerakan akar rumput seperti ini sangat vital untuk mendukung kebijakan mitigasi bencana dan pemulihan ekosistem yang rusak,” tuturnya.
Dalam kemah tersebut, peserta mengikuti berbagai rangkaian agenda edukatif, mulai dari diskusi lingkungan, edukasi kesukarelawanan, aksi bersih kawasan, hingga penguatan jejaring komunitas. Melalui pendekatan partisipatif, para peserta diajak memahami bahwa menjaga kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama.
Dengan semangat kebersamaan, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang aktif berkontribusi menjaga lingkungan. Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya tentang hari ini, tapi tentang masa depan yang ingin kita wariskan bagi generasi berikutnya di Bumi Rencong, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.






Recent Comments